Minggu, 12 Oktober 2014

Dasyat dan Luar Biasa..


Pembacaan                  : Masmur 139 : 14
                                         Roma 9 : 20-21


Renungan
Berbahagialah kita yang mau membaca dan mendengarkan Firman Tuhan. Dan yang lebih berbahagia adalah dia yang mau melakukannya dalam kehidupan hari lepas hari.
Dalam bacaan kita pada mlm hari ini, ega tertarik pada Mazmur ayat 14a yang berbunyi “ aku  bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib”.
         
Tuhan itu sangat kreatif! Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sama. Anak kembar pun yang rupanya tampak sama tetap memiliki sifat yang berbeda. Namun, kita diciptakan untuk menjadi dahsyat, atau dengan kata lain menjadi luar biasa, setiap kita diciptakan dengan pribadi yang berbeda, tingkah laku yang berbeda, muka, bentuk tubuh, bentuk rambut, dll. Semuanya diciptakan dengan banyak perbedaan, namun dengan tujuan yang sama, yaitu menjadi dahsyat dan luar biasa sesuai dengan bidang kita.  Kita diciptakan dengan tujuan hidup yang sama, kira2 kita jauh2 ada yg dari kefa, atb, soe, kpg, klimantan, medan, dlsbg. Kita dtg ke UKSW dgn tujuan yg sama yaitu untuk mencapai apa yang menjadi tujuan kita dan itu pasti akan tercapai bila kita menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri.
          nah, pertanyaan bagi kita skrg adalah; bagaimana menjadi diri kita yang terbaik ? jawabannya hanya 1, yaitu jadilah diri kita sendiri. Banyak dari kita manusia yang tdak mau menerima dirinya sndiri, sehingga apa yang sudah Tuhan rencanakan, masa depan yang sudah Tuhan sediakan bagi kita yang terbaik tdak trjadi dlam kehidupan kita.

            Roma 9:20-21: Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?". Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
          kita digaris besarkan untuk menjadi dahsyat dan luar biasa, namun seringkali yang terjadi adalah kita tdak jalan d jalan itu, kita malah protes kepada Tuhan, krn kita tdk mnerima diri kita apa adanya. Hal ini tdk akan terjafi bila kita menerima diri kita apa adanya  termasuk hal yang tdk bias kita ubah;  seperti :
 keluarga, kita harus menerima kelemahan dan kekurangan ortu kita .. misalnya musa dan Samuel  yang d asuh oleh ortu angkat yang akhirnya dipakai Tuhan secara luar biasa.
 
. Kemampuan saya. Belum tentu yang pintar yang berhasil. Tapi yang berhasil adalah yang berjalan dalam jalan Tuhan yang senantiasa mau belajar dan berkembang. Contohnya Thomas Alva Edison yang tidak lulus sekolah bisa menjadi seorang penemu lampu karena dia mau belajar dan melakukan hal yang baik.
Penampilan fisik. Banyak orang yang minder dengan penampilan fisiknya. Bahkan sampai ada yang melakukan operasi plastik. Ada yang karena minder menarik diri dari pergaulan. Ada juga yang karean minder menjadi pribadi yang jahat.

Tahukah anda hal-hal kurang baik tidak akan terjadi bila kita menerima diri kita dan memiliki CITRA DIRI yang sesuai kehendak Tuhan, yaitu menjadi DASYAT dan LUAR BIASA.

Langkahnya adalah; YAKINI kita adalah DASYAT dan LUAR BIASA, TERIMA hal-hal yang tidak bisa diubah, Belajar mengembangkan diri dengan talenta dan kelebihan yang sudah Tuhan titipkan kepada kita.


          Ega mau berbagi kata bijak  yang bilang; jadilah dirimu sendiri yang ingin berubah menjadi lebih baik bagi dirimu sendiri, bagi sesame manusia dan bagi Tuhan. AMIN

Renungan Perdana.....

Galatia 4 : 12 – 20
(Ingatlah akan Hubungan Kita yang Semula)
Tema              : Mengatakan Kebenaran, Bukan Mengobarkan Perseturuan.

Berkaitan dengan masalah kebenaran, apa yang dimaksud dengan  “kebenaran”? (seimbang atau tidak berat sebelah, pas, pasti, sesuai dengan realitas, dll). dunia ini terbagi kedalam dua polaritas yang paradoksial, (polaritas : hal atau benda yang memperhatikan dua sifat yang berlawanan atau hal-hal yang bertentangan langsung). Pencarian akan kebenaran sekaligus pelarian dari kebenaran.
Ilustrasi           : didalam sebuah keluarga, terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang masih bayi. Mereka juga memlihara seekor hari mau yang pintar. Pekerjaan dari kedua orang tua ini adalah petani, saat sedang bekerja yang menjaga anak bayi mereka adalah harimau yang pintar ini. Suatu ketika, saat orang tua dari sang bayi ini selesai bekerja, setibanya mereka dirumah, mereka melihat pada mulut harimau ada darah, kedua orang tua ini mengira bahwa harimau telah memakan anak mereka sehingga sang ayah membunuh harimau ini. Setelah membunuh harimau tersebut, terdengarlah suara teriakan sang bayi dan ternyata bayi mereka sehat-sehat saja dan darah yang terlihat di mulut harimau itu adalah darah ular yang ingin memakan bayi mereka, niat harimau ingin menolong sang bayi dari ular.
Rasul Paulus memulai perikop ini dengan permintaan agar Jemaat-jemaat Galatia yang dia kasihi bahkan disapa sebagai saudara (ayat yang ke 12) menjadi seperti dia karena dia telah lebih dahulu menjadi seperti mereka, sebagai orang Yahudi tidaklah mudah bagi Paulus untuk bergaul bahkan mengasihi orang yang bukan Yahudi seperti Jemaat-jemaat Galatia. Hanya kasih Yesus yang memungkinkan semua itu kepada paulus sehingga dia dapat bersahabat dengan jemaat-jemaat di Galatia. Perikop ini bukan berdasarkan himbauan Teologi melainkan Perikop ini berisi argumen Paulus berdasarkan perasaannya sebagai Rasul.
Paulus adalah seorang bapa rohani yang baik; ia pandai mengimbangi teguran dengan kasih. Sekarang ia beralih dari “pukulan” ke “pelukan”. (awalnya tidak mudah bergaul dengan orang-orang non yahudi tetapi akhirnya mengaanggap jemaat-jemaat Galatia sebagai saudara). Mereka bersedia mengorbankan apapun bagi Paulus. Demikian besarnya kasih mereka, tetapi sekarang mereka telah menjadi musuhnya. Para penganut Yudaisme telah datang dan mencuri kasih mereka. Sehingga mereka menganggap Paulus sebagai musuh karena apa yang dikatakan Paulus tentang kebenaran. Tetapi Paulus sangat rindu berada di antara jemaat-jemaat di Galatia.
Dari ilustrasi tersebut juga dapat kita lihat bahwa niat atau tujuan dari harimau itu sangat mulia yaitu ingin menyelamatkan sang bayi dari kedua orang tua tersebut.  begitu pula dengan rasul Paulus yang ingin mengatakan tentang kebenaran Tuhan kepada jemaat-jemaat di Galatia, dan ingin membawa mereka kembali ke ajaran kebenaran Kristus.  tetapi mereka malah mendengar misionaris-misonaris yang membawakan ajaran sesat itu.
Marilah kita juga belajar dari Yesus Sang Guru Agung kita yang kasihNya melimpah bahkan rela mati untuk menebus dosa manusia. Ketika kita merasa kurang mengasihi Dia biarlah Dia yang telah lebih dulu mengasihi kita, melimpahkan kasihNya. Kasih yang rela berkorban untuk orang-orang yang bahkan tidak menunjukkan kasih kepadaNya.
Paulus mengingatkan kepada Jemaat Galatia untuk tidak mudah terombang ambing  oleh roh-roh dunia, karena apa yang dirasakan Paulus pada jemaat di Galatia tidak konsisten antara iman dan praktek mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari. Yang terjadi adalah inkonsisten antara pemahaman tentang Allah dan praktek kehidupan mereka sehari-hari.  
Keberanian menyatakan kebenaran
Perlu keberanian untuk menyatakan kebenaran, ketika Rasul Paulus mendengar bahwa Jemaat-jemaat Galatia mulai dibingungkan dengan ajaran sesat, segera Paulus mengirimkan surat yang berisi teguran dan peringatan agar mereka kembali kepada kebenaran Injil yang memerdekakan. Walaupun itu membuat dia dimusuhi (ayat 16), dianggap musuh oleh Jemaat-jemaat Galatia yang begitu dia kasihi dan Paulus juga mengibaratkan hubungan dia dengan Jemaat-jemaat di Galatia seperti hubungan antara seorang ibu dan anknya (ayat 19). Paulus berani menyatakan kebenaran, meskipun bukanlah keadaan yang menyenangkan.
Sebagai hamba Tuhan seringkali harus memilih diam atau menyatakan kebenaran, perasaan dimusuhi atau dianggap aneh karena menyatakan kebenaran bukanlah hal yang mudah. Tapi itu bukan berarti putus asa dan menjadi tidak peduli. Jemaat tetap perlu tahu apa yang benar atau salah sepahit apapun itu. Seperti orangtua yang selalu ingin yang baik untuk anak-anaknya walaupun terkadang si anak tidak mau mendengar atau menerimanya, perintis atau gembala Jemaat perlu terus menunjukkan kebenaran dalam Kristus dalam pengajarannya.
Melalui perenungan ini, kita di ajarkan agar melakukan apa yang kita imani dengan utuh dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga tidak berat sebelah. Jadi apa yang kita imani haruslah sesuai dengan apa yang kita lakukan agar dapat dilihat dalam diri tiap individu ada kekonsistenan termasuk didalamnya ada kebenaran yang mengiringi jalannya kehidupan kita dari hari ke hari.
Untuk itu perlu ada integritas kebenaran atau kejujuran yang sesuai dengan kebenaran yang ada. (kebenaran yang utuh). Orang yang berintegritas adalah dia yang benar-benar memahami akan kebenaran dan dapat di aplikasikan  dalam hidupnya sesuai dengan kebenaran yang dipahaminya. Orang yang demikian akan hidup secara otentik atau yang dapat dipercaya. Dengan dampak seperti ini, hadirnya kebenaran sebagai suatu nilai yang bermoral yang membawa damai sejahtera bagi semua orang.

AMIN… J J J J J J J

jurnaaal_Kuuh....


PRAKTEK PENDIDIKAN LAPANGAN III
BINTANG NOVEIGHA MANTOLAS

Pada minggu PPL 3 minggu ke 4 ini, saya mengikuti dua kali ibadah yaitu ibadah ibadah rayon I dan ibadah kaum wanita (Hadasa).
Yang pertama adalah ibadah rayon 1 pada hari rabu, 08 Oktober 2014 yang bertempat di Rumah Pak Karmin, jam 6, saya sebagai MC dan yang membawakan Firman adalah Saudara Shendy. Dengan bacaan yang terambil dari Matius 12 : 33 – 37 dengan tema : Roh yang Menghadirkan Kebaikan”
Inti renungan adalah lebih kepada pohon dan buah. Kita sebagai manusia diibaratkan sebagai pohon yang dapat menghasilkan buah. Seperti apel, mangga, rambutan, dll. Pohon yang selalu disiram dengan air, mendapatkan cahay matahari, akan menghasilkan buah yang baik, begitu pula dengan hidup kita sebagai manusia, setiap minggu, setiap kali ibadah, selalu mendapatkan air dan cahaya dari injil kebenaran Tuhan yang menjadi makanan rohani kita sebagai manusia yang beragama, khususnya agama Kristen. Apa yang sudah kita dapatkan selalu harus kita lakukan dalam kehidupan kita hari lepas hari. Dari pelayanan firman yang sudah kita dengan dan kit abaca, yang baik tetap dipertahankan dan yang buruk dapat kita buang. Kita sebagai pohon yang menghasilkan buah, dengan sudah mendapatkan pencerahan dan siraman air, haruslah menghasilkan buah yang baik, dan dapat dinikmati oleh sesame kita sebagai umat Kristen. Apa yang baik, dapat kita bagikan kepada sesame dan dapat kita nikmati bersama.  
Pada perenungan ini, dan dalam ibadah rayon 1 ini, saya dapat menerapkan dalamn kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti, waktu berkuliah, baik itu kuliah HPB, HPL ataupun Filsafat yang sering berbicara tentang Rahasia Teologi atau dengan argument-argumennt yang menggoyahkan Iman, dengan berPPL di GKMI Siloam, saya banyak mendapatkan pencerahan tentang injil kebenaran Tuhan yang sangat baik jika dijadikan pegangan iman agar ketika mendengar, membaca dan melihat tentang apa yang menjadi pikiran yang dapat membuat kita tidak percaya kepada Tuhan. saya memang sangat senang berfilsafat, tetapi, disamping itu juga telinga dan hati saya tetap kepada apa yang seharusnya kita pelajari untuk dapat melayani sesame, untuk melayani semua orang dengan injil kebenaran yang sudah saya dapat setiap kinggunya.  
Yang kedua adalah saya mengikuti ibadah kaum wanita (Hadasa). Nama dari komisinkaum wanita yaitu kaum Hadasa, ibadah ini berlangsung pada hari jumat, 10 oktober 2014 yang bertempat digereja, jam 4 sore, yang menjadi MC adalah saudari Yoli Manu dan yang membawakan Firman adalah Saudari Delvi. Dengan bacaan yang terambil dari 1 Raja-Raja 19 : 1 – 8.
Inti dari perenungan ini adalah kita hidup sebagai manusia yang dijuluki sebagai Imagodei atau segambar dan serupa dengan Allah. Hidup sebagai makhluk yang berakal budi. Pada ibadah ini lebih berbicara tentang makanan rohani dan makanan jasmani. Karena dalam ayatnya yang ke 5 – 8, berbicara tentang makanan. Manusia ketika dia dengan tubuh yang belum berisi, atau belum makan, dapat mempengaruhi hidup dan kehidupannya dalam segala hal, baik dalam hal berpikir, belajar dll. Mungkin ada beberapa orang yang bisa menahan atau dengan fisik yang kuat dapan menahan kelemahan tubuhnya tetapi ada beberapa orang yang jika lemah fisiknya dapat mempengaruhi psikisnya juga. Disni kita belajar tentang menjaga kestabilan tubuh. Atau dalam menjaga kesehatan. Untuk ibu-ibu mungkin lebih kepada pekerjaan rumah tangga dan kami sebagai mahasiswa lebih kepada berkuliah. Pada ayat dan pada inti renungan tersebut mungkin menegaskan kita agar menjaga keseimbangan psikis dan fisik kita. Sehingga dapat menjalankan aktifitas kita sebagaimana mestinya. Ayat yang sanat baik ketika kita lupa untuk lebih mementingkan pekerjaan kita daripada kesehatan tubuh kita. Ada seorang ibu yang berbicara bahwa tubuh kita juga perlu dijaga karena tubh kita adalah Bait Allah. Sehingga jika tidak menjaga tubuh kita, dapat mengakibatkan hal-hal yang mungkin tidak diingikan.  
Dalam perenungan ini, saya dapat menyimak dengan baik bahwa dalam kehidupan bermahasiswa, wajib dan patutlah kita untuk mejaga kesehatan. Saya beberapa hari ini lebih kepada kegiatan dan lupa bahwa sebenarnya tubuh ini perlu dijaga. Dan perlu untuk mendapat makanan jasmani. Dari sini, juga saya dapat belajar untuk lebih kepada mengatur waktu dalam hidup sebagai pribadi yang membutuhkan jasmani dan rohani hubungan anatar kelompok atau organisasi.  




Sabtu, 11 Oktober 2014

Renungan Ibadah IKMASTI ....

IBADAH BERSAMA “IKMASTI”
SABTU, 11 Oktober 2014
Kolose 3 : 18 – 23.
TEMA             :
Mengasihi Sesama sebagaimana Engkau Mengasihi Tuhan
Bacaan yang terambil dalam kedua ayat ini dapat kita simak baik-baik apa yang tadi sudah dibaca. Latar belakang kehidupan orang-orang kolose pada waktu itu menunjukkan bahwa tujuan dari Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Kolose bahwa pada ayatnya yang ke 18 – 23, Paulus menegaskan agar ada hubungan baik, baik itu antara suami – istri, anak – orang tua. Mungkin hal-hal seperti ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita hari-lepas hari bahwa tujuan dari Paulus dalam menuliskan surat ini sangat baik, meskipun tulisan yang sudah cukup lama. Tetapi makna dari kitab lama ini membawa dampak yang baik untuk hidup dan kehidupan kita pada saat ini. Disini saya tidak terlalu membicarakan tentang latar belakang ayat-ayat ini, tetapi saya hanya ingin membicarakan tentang hubungan dari ayat ini dengan kehidupan kita sehari-hari.
Saya tertarik pada bacaan ini karena yang pertama bisa kita lihat dalam ayat 20. Hubungan antara anak dengan orang tua.  Sebagai anak rantau, atau anak yang jauh dari orang tua. Orang tua berani melepas kita untuk datang hidup sendiri dan hidup madiri disalatiga, artinya mereka mempercayai kita bahwa kita sudah bisa. Sudah bisa dalam arti bisa hidup mandiri tanpa penglihatan orang tua. Tetapi tanpa sepenglihatan mereka, yang patut kita buat disini adalah sesuai dengan “Tujuan” kita. Tujuan kita datang disini untuk apa yah seperti itu yang kita buat. Dalam ayat 20 mengatakan bahwa “taatilah orangtuamu dalam segala hal”, dalam segala hal berarti bukan dalam hal ini dan hal itu. Dalam segala hal, berarti semua yang masih kita ingat apa saja nasihat orang tua sebelum dan sesudah datang sampai disalatiga. Lanjutannya adalah karena itulah yang indah didalam Tuhan. Indah didalam Tuhan, bisa diartikan bahwa Tuhan ada dalam kehidupan orang tua. Jadi ketika kita sudah mendengar nasihat orang tua, dan menuruti nasihat mereka, sama artinya kita sudah melakukan sesuatu yang indah di dalam Tuhan. Di dalam 10 hukum taurat yang ke-5 pun mengatakan seperti itu, hormatilah orang tuamu supaya lanjut umurmu.  Jadi meskipun jauh dari orang tua, nasihat-nasihat yang sudah diingatkan, dan selalu diingatkan, aplikasikan. Contoh singkat, mama bilang “ega, jangan lupa belajar.” Yaaah, aplikasikan. Saya pribadi berpikirnya seperti ini, hasil tes yang bagus saja, itu sudah membuat mereka bangga. Apa yang di sampaikan dosen-dosen sangat baik jika kita simak secara baik. Bahwa kita yang membuat nilai itu sendiri. Ketika kita malas belajar, tidak dengar apa yang orang tua dan dosen bicarakan saja sudah dapat mempengaruhi kehidupan kita sebagai mahasiswa.  
Kembali kepada bacaan kita, dalam kolose 3 : 18 – 23 hubungan kita dengan sesame. Cara kita berinteraksi dengan sesame dalam masyarakat. Interaksi yang artinya hubungan timbale balik antara individu – individu, individu – kelompok, kelompok – kelompk, baik itu dalam kehidupan dengan teman 1 kelas, teman etnis, teman kost, teman asrama dlsbgnya.pada (ayat yang ke 23) saya pernah membaca buku kenapa saya menjadi orang Kristen? Jawaban yang sering didengar itu adalah karena mama dengan papa beragama Kristen karena sudah di babtis, karena sudah sidi. Dan mungkin yang menjadi anak pendeta jawabannya pasti karena saya lahir di sebelah gereja.

Pada ayat ini menjawab pertanyaan tadi karena dari Tema tersebut. esensi agama Kristen adalah KASIH. Tidak susah jika kita ingin melayani Tuhan. Karena pada ayat ini kata Paulus dalam suratnya ini dia mau memberitahukan kepada kita semua bahwa lakukan apa pun itu kepada sesama dengan segenap hati karena itu sama saja seperti kita melayani Tuhan. Kita mengasihi sesame, sama artinya kita mengasihi Tuhan. Bisa dikatakan bahwa Sosok Tuhan ada dalam diri sesame kita. Jadi kalau kita ingin melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap teman kita, ingatlah ayat ini. 

berbicara tentang mengasihi sesama, saya teringat akan seorang filsuf kontenporer yang bernama Levinas. dia mengatakan bahwa "jika bertemu dengan subjek yang lain, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah kebaikan. karena pada mukanya sudah tertera kata "jangan sakiti aku". artinya disini ketika dengan sesama, baik yang sudah dikenal atau belum dikenal, hal pertama yang harus dilakukan adalah kebaikan, yang biasanya terjadi adalah ketika bertemu, hal yang paling utama dan pertama dilakukan adalah "senyum". karena seutas senyum adalah sebuah pelayanan yang sangat berharga dan dimiliki oleh seuma orang sebagai makhluk hidup.

AMIN....